Peresmian Gapura Selamat Datang
Untuk menjadikan identitas, Padukuhan Pager membangun gapura Selamat Datang yang mana di desain oleh masyarakat padukuhan Pager sendiri agar dapat menjadikan ciri khas Padukuhan Pager.
Simulasi Pengamanan Wilayah
Saat team penilai lomba Pengagungan Kecamatan Playen tengah sibuk melakukan penilaian di Padukuhan Pager, Desa Logandeng, Playen, mendadak terjadi keributan. Puluhan orang yang awalnya berbaris rapi di pinggir jalan menyambut team penilai mendadak lari ber...
Lomba Pengagungan HUT RI Ke-70
Padukuhan Pager, Sebagai lingkungan tempat tinggal masyarakat, sebuah dusun haruslah tertata rapi dan bersih. Hal tersebut bukan hanya karena alasan kerapian, kebersiha dan kesehatan, namun juga karena alasan keindahan dan faktor yang membuat warganya menjadi...
Rabu, 20 Mei 2015
22.32
Aang
Padukuhan Pager, Tanggal 20 Mei 2015 menjadi hari yang membanggakan buat kami dimana Salahsatu Kelompok Budidaya Ikan Air Tawar POKDAKAN ARUM PAGER ditunjuk oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gunungkidul untuk mengikuti Lomba Budidaya Ikan Air Tawar Tingkat Provinsi Tahun 2015 mewakili Kabupaten Gunungkidul.
Kami mengucapkan terimakasih kepada Bapak Camat Playen, Kapolsek Playen, Danramil Playen, Lurah Desa Logandeng dan jajarannya, dan juga warga masyarakat Padukuhan Pager serta tamu undangan yang tidak bisa kami sebutkan satu-persatu yang telah memberi suport, motivasi, dan kehadirannya dalam acara Lomba Budidaya Ikan Air Tawar Tingkat Provinsi Tahun 2015. Semoga Lomba Budidaya Ikan Air Tawar Tingkat Provinsi Tahun 2015 ini menjadikan motivasi untuk masyarakat Padukuhan Pager menjadi lembih maju dan berkembang.
Minggu, 01 September 2013
19.43
Aang
Ketua panitia Widodo mengatakan, tradisi ini sebagai rasa puji syukur kita terhadap leluhur dan berdoa agar di beri keselamatan oleh Tuhan. Acara tersebut diikuti 5 padukuhan meliputi Pager, Plembon Kidul, Plembon Lor, Logandeng dan Jalakan.
“Disamping itu kita bekerja sama dengan Disbudpar Prov DIY mengadakan Turnamen Bola Voli, jatilan, hiburan elekton, dan pentas seni ketoprak dari disbudpar dengan dana sebesar 15 juta, donatur dan swadaya masyarakat” dan total pengeluaran sebesar lebih dari 42 juta. Berikut laporan panitia Pesta Rakyat Padukuhan Pager Tahun 2013
Kebudayaan tradisional merupakan akar dari refleksi perkembangan peradaban kehidupan masyarakat di dunia, begitu pula di Indonesia . Indonesia yang memiliki kurang lebih tiga ratus suku bangsa yang masing-masing memiliki kebudayaan tradisional yang unik/khas telah lama menjadi sorotan bangsa-bangsa lain yang menganggap Indonesia sebagai tempat yang paling sesuai untuk menjadi tujuan wisata dan penelitian kebudayaan. Adanya arus modernisasi , dikuatirkan akan mengikis wujud kebudayaan tradisional yang seharusnya tetap dijaga dan dilestarikan sebagai salah satu kekayaan nasional bangsa Indonesia. Persoalan yang kemudian timbul adalah ketika fenomena ini dihadapkan pada realita masyarakat yang cenderung tidak memiliki keantusiasan dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan tradisional yang dimilikinya. Demam globalisasi seolah-olah membuat masyarakat lupa bahwa mereka memiki harta yang tak ternilai harganya.
Masyarakat Padukuhan Pager, Desa Logandeng, Kecamatan, Playen, Kabupaten Gunungkidul Sebagai wujud dan aksi nyata dalam usaha-usaha pelestarian budaya akan menyelenggarakan PESTA RAKYAT DAN GELAR BUDAYA, dimana, dalam kegiatan ini akan menampilkan ragam kesenian, dan turnamen olahraga
Rencana atau program kerja kebudayaan ini diberi nama “PESTA RAKYAT DAN GELAR BUDAYA” yang merupakan ajang pelestarian budaya, menampilkan potensi daya tarik wisata di Desa Logandeng, dan pengenalan budaya daerah khususnya kebudayaan Jawa kepada generasi muda.
Adapun tema kegiatan “ PESTA RAKYAT DAN GELAR BUDAYA” adalah “Dengan Seni dan Budaya Kita Wujudkan Masyarakat Yang Mandiri dan Bermartabat”. Event ini diadakan dalam rangka membangkitkan semangat masyarakat untuk mencintai budaya sendiri dan turut aktif untuk melestarikannya dan sebagai daya tarik wisata pedesaan.
Maksud dan tujuan digelarnya kegiatan ini adalah :
- Menumbuhkan semangat kehidupan warga Padukuhan Pager, untuk selalu bekerja keras, mengembangkan sikap solidaritas dan gotong royong serta sebagai ungkapan rasa syukur kepada sang khalik atas segala limpahan rahmat dan berkah-Nya.
- Memperkenalkan budaya tradisional kepada generasi muda dan memberikan hiburan bagi seluruh lapisan masyarakat Padukuhan Pager dan Sekitarnya. Sehingga diharapkan budaya tradisional semakin dicintai dan eksis di tengah budaya modern/barat.
- Sebagai upaya pelestarian budaya yang sekarang ini mulai tergeser oleh budaya luar.
- Sebagai event pesta rakyat dan wisata budaya tahunan di Desa Logandeng, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul.
Jenis-jenis kegiatan meliputi : (1) Turnamen
Bola Voli Lima Padukuhan sektor utara Desa Logandeng (2) Pentas keseni.
Kegiatan dilaksanakan di Padukuhan Pager dari tanggal 14 s.d 26 Agustus 2013.
1. Turnamen Bola Voli
No
|
Jenis
Lomba
|
Waktu
Pelaksanaan
|
Peserta
|
Juara
|
1
|
Voli Putri
|
14 – 24 Agustus 2013
|
1.
Padukuhan Pager
2.
Padukuhan Plembon Kidul
3.
Padukuhan Plembon Lor
4.
Padukuhan Logandeng
5.
Padukuhan Jalakan
|
1 Jalakan
2 Plembon Lor
3 Logandeng
|
2
|
Voli Putra
|
14 – 24 Agustus 2013
|
1.
Padukuhan Pager
2.
Padukuhan Plembon Kidul
3.
Padukuhan Plembon Lor
4.
Padukuhan Logandeng
5.
Padukuhan Jalakan
|
1 Pager
2 Logandeng
3 Plembon Kidul
|
2. Pentas Kesenian
No
|
Tanggal
|
Uraian
Kegiatan
|
1
|
25 Agustus 2013
|
Pentas Seni
(Campursari “Evata” Dari
Padukuhan Pager)
|
2
|
26 Agustus 2013 (Siang)
|
1.
Pesta
Rakyat (rasulan)
2.
Jatilan
“Kridho Prasojo“ Dari Paten/Lopati, Trimurti, Srandakan Bantul
|
3
|
26 Agustus 2013 (Malam)
|
Pentas Kesenian
Ketoprak “Kridho Pambudiraharjo” Dari Karang Taruna Desa Logandeng dengan
bintang tamu Rabies cs dari Yogjakarta
|
Foto Kegiatan Pesta Rakyat 2013
| Penyerahan Piala Bergilir Oleh Kepala Desa Kepada Ketua Panitia |
| Pembukaan Turnamen Bola Voli antara Tim Putra Pager vs Tim Putra Logandeng |
| Pentas Kesenian Putra-Putri Padukuhan Pager |
| Elektone Evata |
| Drumband SD N Plembon |
| Jatil Kridho Prasojo |
| Jatil Kridho Prasojo |
| Penonton Jatil Kridho Prasojo |
| Jatil Kridho Prasojo |
| Kenduri |
| Kenduri |
| Pentas Seni Tari |
| Penyerahan Hadiah Juara Turnamen Bola Voli Putri |
| Penyerahan Hadiah Juara Turnamen Bola Voli Putra |
| Undian Tempat Penyelenggaraan Bersih Desa Tahun 2014 |
| Ketoprak Kridho Pambudiraharjo Bersama Rabies |
| Ketoprak Kridho Pambudiraharjo Bersama Rabies |
| Parogo Ketoprak Kridho Pambudiraharjo |
| Ketoprak Kridho Pambudiraharjo |
Rabu, 28 Agustus 2013
19.21
Aang
Sejarah Ketoprak - Ketoprak merupakan salah satu kesenian rakyat di Jawa Tengah yang cukup digemari oleh masyarakat setempat. Ketoprak lahir di Solo sekitar akhir abad XIX dan awal abad XX. Ada pula yang mengatakan bahwa ketoprak berasal dari kota Yogyakarta.
Hatley (2008: 19-20) merujuk pendapat Wijaya dan Sutjipto tentang sejarah awal lahirnya ketoprak. Dikatakan bahwa ketoprak muncul pada pertengahan akhir abad XIX di daerah pedalaman antara kota Surakarta dan Yogyakarta. Pada sekitar tahun 1977, ketoprak mulai dikembangkan sebagai bentuk hiburan musikal di beberapa daerah di Jawa, yang dipentaskan pascapanen atau dalam suatu perayaan masyarakat. Musik kothekan digunakan untuk mengiringi pertunjukan tersebut, yaitu dengan menggunakan lesung dan alu. Pertunjukan tersebut dilangsungkan pada malam hari. Satu atau dua orang memukul lesung, beberapa orang memanggil penduduk desa yang lain, beberapa orang yang datang ikut memukul lesung, dan ada pula yang menari. Awal mulanya seperti itu. Lalu pada akhir abad XIX diberi cerita sederhana. Alat musik pun diperbanyak dengan menambahkan kendang, seruling, dan tamburin.
Hatley tidak bisa memastikan apakah pertunjukan tersebut sudah disebut ketoprak atau belum. Hanya disebutkan bahwa istilah ketoprak diambil dari suara pukulan (kethok) yang menghasilkan suara prak prak prak yang berirama.
Menurut sumber lain, nama ketoprak memang diambil karena iringan musiknya berbunyi “prak” sehingga dipakailah nama ketoprak. Konon, bunyi “prak” dihasilkan dari alat musik yang bernama “tiprak”.
Tidak banyak sumber resmi yang dapat dirujuk untuk mendeteksi definisi ketoprak. Jakob Soemardjo (1992: 60-62) hanya menyebutkan asal muasal ketoprak serta unsur-unsurnya tanpa memberikan definisi yang pasti tentang pertunjukan ketoprak. Menurutnya, ketoprak lahir sebagai sebuah kebiasaan masyarakat memainkan alat musik, bernyanyi, dan menari. Kebiasaan tersebut lalu diolah sedemikian rupa seiring dengan perjalanan waktu menjadi sebuah pertunjukan yang dinamakan ketoprak. Sumber lain mengatakan bahwa ketoprak adalah kesenian tradisional yang berupa pementasan drama yang mengangkat cerita-cerita tertentu, biasanya kisah legenda.
Ketoprak dianggap sebagai kesenian rakyat yang tidak adiluhung. Artinya, kesenian ini merupakan kesenian masyarakat rendah. Berbeda dengan kesenian wayang yang memang sangat adiluhung karena merupakan kesenian yang sangat digemari di kalangan kerajaan. Hatley (2008: 18) mengatakan “Ketoprak had no such courtly aura.” Hal ini disebabkan karena ketoprak dipentaskan dengan menyajikan cerita-cerita legenda dan kerajaan pada masa lalu dalam bentuk tradisi lisan yang berkembang di lapisan masyarakat rendah dengan menyampaikan tema-tema yang relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat tersebut dan dikemas secara lucu.
Eko Santosa, dkk (2009: 30) mengatakan bahwa salah satu unsur yang paling menonjol dalam ketoprak adalah penggunaan unggah-ungguh bahasa Jawa. Di sana ada tiga tingkatan bahasa Jawa yang digunakan, yaitu ngoko (biasa), krama, dan krama inggil.
Kasim Ahmad sebagaimana dikutip oleh Herman J. Waluyo (2006: 73) mengklasifikasikan teater tradisional menjadi tiga, yaitu teater rakyat, teater klasik, dan teater transisi. Sementara ketoprak masuk dalam kategori teater rakyat. Disebutkan pula bahwa salah satu sifat teater rakyat adalah improvisasi, sederhana, spontan, dan menyatu dengan kehidupan rakyat.
Dalam tulisannya yang lain, Kasim Ahmad (1999: 267) menyebutkan ciri-ciri teater tradisional yang lain. Salah satu ciri yang esensial dari teater tradisional ialah proses kreatifnya yang didukung oleh sistem kebersamaan, tidak ada penonjolan ndividu sebagai pencipta karya. Teater tradisional didasarkan pada intuisi para pemainnya. Ciri penting yang lain dalam teater tradisional yaitu konsep pertunjukan yang multi media ekspresi yang terpadu.
Berdasarkan uraian di depan, dapat dipahami bahwa ketoprak merupakan salah satu kesenian tradisional (teater rakyat) yang lahir dan berkembang di Jawa Tengah yang mengetengahkan cerita-cerita kehidupan rakyat, juga sering berupa cerita legenda, dipadukan dengan unsur tarian, tembang, dan iringan musik.
Ketoprak “Kridho Pambudiraharjo"
Ketoprak “Kridho Pambudiraharjo"
Kebudayaan tradisional merupakan akar dari refleksi perkembangan peradaban kehidupan masyarakat di dunia, begitu pula di Indonesia . Indonesia yang memiliki kurang lebih tiga ratus suku bangsa yang masing-masing memiliki kebudayaan tradisional yang unik/khas telah lama menjadi sorotan bangsa-bangsa lain yang menganggap Indonesia sebagai tempat yang paling sesuai untuk menjadi tujuan wisata dan penelitian kebudayaan. Adanya arus modernisasi , dikuatirkan akan mengikis wujud kebudayaan tradisional yang seharusnya tetap dijaga dan dilestarikan sebagai salah satu kekayaan nasional bangsa Indonesia. Persoalan yang kemudian timbul adalah ketika fenomena ini dihadapkan pada realita masyarakat yang cenderung tidak memiliki keantusiasan dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan tradisional yang dimilikinya. Demam globalisasi seolah-olah membuat masyarakat lupa bahwa mereka memiki harta yang tak ternilai harganya.
Pada Hari Senin (26/08/2013) Masyarakat Padukuhan Pager, Desa Logandeng, Kecamatan, Playen, Kabupaten Gunungkidul Sebagai wujud dan aksi nyata dalam usaha-usaha pelestarian budaya akan menyelenggarakan PESTA RAKYAT DAN GELAR BUDAYA, dimana, dalam kegiatan ini akan menampilkan berbagai kesenian tradisional diantaranya Ketoprak “Kridho Pambudiraharjo" yang semua pemainnya merupakan warga dari Desa Logandeng dengan menampilkan bintang tamu RABIES.
Antusias warga dalam menyaksikan pertunjukan ketoprak ini sangat luar biasa, dari berbagai wilayah di sekitar Padukuhan Pager berbondong-bondong untuk menyaksikan pertunjukan tersebut.
Pada Hari Senin (26/08/2013) Masyarakat Padukuhan Pager, Desa Logandeng, Kecamatan, Playen, Kabupaten Gunungkidul Sebagai wujud dan aksi nyata dalam usaha-usaha pelestarian budaya akan menyelenggarakan PESTA RAKYAT DAN GELAR BUDAYA, dimana, dalam kegiatan ini akan menampilkan berbagai kesenian tradisional diantaranya Ketoprak “Kridho Pambudiraharjo" yang semua pemainnya merupakan warga dari Desa Logandeng dengan menampilkan bintang tamu RABIES.
Antusias warga dalam menyaksikan pertunjukan ketoprak ini sangat luar biasa, dari berbagai wilayah di sekitar Padukuhan Pager berbondong-bondong untuk menyaksikan pertunjukan tersebut.
Minggu, 25 Agustus 2013
23.29
Aang
Dalam rangka memeriahkan Bersih Dusun di Padukuhan Pager Tahun 2013, Panitia Bersih Dusun Padukuhan Pager mengadakan Turnamen Bola Voli yang di Ikuti oleh 5 Padukuhan Sektor Utara yaitu Padukuhan Logandeng, Plembon Lor, Plembon Kidul, Jalakan dan Pager.
| Sambutan Ketua Panitia Pembukaan Turnamen Bola Voli Padukuhan Pager 2013 |
| Sambutan Kepala Desa Logandeng |
| Best Player Pria dan Wanita |
| Juara I/II/III Turnamen Bola Voli Wanita |
| Juara II/III Turnamen Bola Voli Pria |
| Juara I Padukuhan Pager Turnamen Bola Voli 2013 |
Selasa, 09 Juli 2013
Senin, 01 Juli 2013
19.30
Aang
Padukuhan Pager, Launching Blog Padukuhan Pager dalam rangka memberikan informasi kepada masyarakat mengenai kegiatan dan aktifitas masyarakat Padukuhan Pager, Desa Logandeng, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul. Blog ini Berisikan kegiatan dari LPMP, Karang Taruna, Keagamaan, Kegiatan RT, Kesenian, Pembangunan, Pertanian Umum, Pendidikan, PKK, Kesehatan. Semoga informasi yang ada dapat membantu.
Langganan:
Postingan (Atom)
RSS Feed Reader
