Selasa, 06 Oktober 2015

Padukuhan Pager yang mulai berbenah di berbagai aspek, mulai dari aspek ekonomi hingga aspek Infrastruktur. Peran serta Tokoh dan Masyarakat Padukuhan Pager yang kompak dan solid dalam memajukan Padukuhan Pager sehingga Infrastruktur di Padukuhan Pager dapat merata dan dapat di rasakan manfaatnya. Berbagai upaya telah diusahakan oleh Tokoh dan Masyarakat Padukuhan Pager mulai dari mencari Bantuan dari tingkat Kabupaten, Provinsi, hingga ke Nasional sampai dengan Swadaya Masyarakat untuk membangun Padukuhan Pager. Berikut Gambaran singkat mengenai kondisi Infrastruktur di Padukuhan Pager :

Senin, 05 Oktober 2015

Sehubungan dengan adanya pemeliharaan jaringan di wilayah PT. PLN (Persero) Rayon Wonosari, Pemerintah Desa logandeng mendapat Surat Pemberitahuan No : 096/DIS.00.04/WNS/2015 Tentang : Pemadaman Listrik. Untuk meningkatkan keandalan pasokan tenaga listrik, 4 (empat) Desa di Kecamatan Playen PT. PLN (Persero) Rayon Wonosari akan dilakukan pemadaman listrik pada hari Selasa, 06 Oktober 2015 pada pukul 09.00 - 14.00 WIB
Ilustrasi Ki Pager Wasesa
Berawal dari pelarian Majapahit yang salah satunya bernama Ki Pager Wasesa memasuki wilayah Redikidul (Gunungkidul sekarang). Dia adalah salah satu Senopati perang dari Majapahit. Dalam Perjalannanya dia akhirnya memutuskan untuk bertempat tinggal di tengah Hutan. Menjadi rakyat jelata adalah pilihannya agar bisa hidup tenang dan nyaman. Untuk bertahan hidup, berburu dan bertani adalah kegiatan yang dilakoninya. Dia juga memiliki keahlian dalam bidang mengolah bahanbaku besi menjadi senjata dan alat-alat pertanian.
Profesi membuat alat-alat pertanian berbahan baku besi inilah yang membuat masyarakat lebih mengenal dia sebagai Pager Wesi. Selain sebagai tukang pande besi, dia juga dipercaya ahli dalam pengobatan. Kedua profesi inilah yang akhirnya membuat banyak orang datang dan bermukin di sekitar kediaman Ki Pager Wesi. Maka untuk menghormati Ki Pager Wesi tempat yang sebelumnya hutan ini diberi nama Pager.
Sesuai kebiasaan orang-orang ketika hendak pergi ketempat Ki Pager Wesi, mereka menyebut pergi ke Mbah Pager atau pergi ke Pager. Diapun menghabiskan sisa hidupnya sebagai rakyat biasa sampai meninggal. Masyarakat yang terlanjur bertempat tinggal di sanapun memakamkan dia di sekitar Pager. Dipercaya makam Mbah Pager ada di Bandung.

Sumber : https://id.wikipedia.org

Kamis, 01 Oktober 2015

Alu adalah kayu panjang untuk menumbuk padi. Sedangkan lesung  adalah kayu panjang yang dibuat seperti perahu, sebagai tempat untuk padi yang ditumbuk. Alu dan lesung memang alat untuk memisahkan padi dari tangkainya. Namun, di tangan ibu-ibu petani, alu dan lesung bisa menciptakan irama musik yang indah yang disebut gejog lesung.
Musik yang tercipta dari alu yang ditumbukkan ke lesung ini terkenal dengan sebutan Gejog Lesung. Dulu, Gejog Lesung sering dimainkan saat terang bulan purnama. Gejog Lesung dimainkan sebagai wujud syukur atas hasil panen padi yang melimpah. Para petani berterima kasih kepada Dewi Sri sebagai dewi padi.

Kini, Gejog Lesung hanya dimainkan jika ada upacara-upacara tertentu, seperti bersih desa, pesta panen, atau menyambut tamu. Sesekali, Gejog Lesung juga dilombakan untuk menyambut perayaan tertentu, seperti HUT Kemerdekaan Indonesia. Salah satu contoh Kesenian Gejog Lesung yang sedang dimainkan saat menyambut Tim Penilai Lomba Pengaggungan HUT RI ke-70 di Padukuhan Pager.


Ada Legenda Gerhana Bulan  yang bercerita tentang Gejog Lesung. Konon, ada Raksasa Kala Rahu yang ingin makan Bulan. Ketika Nini Thowong  yang menjaga Bulan sedang tertidur, Raksasa Kala Rahu berhasil memakan separuh Bulan. Maka, masyarakat pun membuat bunyi-bunyian, termasuk memukulkan alu ke lesung. Nini Thowong pun terbangun, lalu memanah Raksasa Kala Rahu, sehingga Bulan terbebas kembali.

Gejog Lesung tidak bisa dimainkan sendirian. Biasanya, ada 12 ibu-ibu yang memainkan Gejog Lesung. Lima atau enam orang yang memainkan Gejog Lesung. Sisanya menyanyi dan menari sambil membawa tampah. 

Lagu-lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu tradisional seperti Gundul-Gundul Pacul, Lumbung Pari,  atau Caping Gunung . Kadang Gejog Lesung juga diiringi oleh tabuhan gamelan Jawa.

Sumber Text : http://www.kidnesia.com
Pager, Kamis (01/10/2015) Salah satu warga Padukuhan Pager yaitu Bp Widodo yang bertempat tinggal di RT 01 kehilangan 3 ekor burung pliharaannya yaitu lovebird, kenari, dan  pleci yang di simpan di teras rumah. Diperkirakan kerugian Bp Widodo atas kehilangan 3 ekor burung dan sangkarnya kurang lebih 1 juta Rupiah. Kejadian diperkirakan terjadi pada sekitar pukul 03.00 - 04.00 WIB.

Salah satu warga Padukuhan Bandung menuturkan bahwa sekitar pukul 04.00 WIB yang hendak rewang, ada pengendara sepeda motor dari arah timur berboncengan dengan membawa sangkar burung. Namun beliau tidak berani menegur.

Rabu, 23 September 2015

Puji syukur kehadirat Allah SAW atas limpahan rohmat barokah yang tercurah kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, para tabi’in tabi’ina muslimin-muslimat mukminin-mukminat dan mudah-mudahan tercurah pada kita semua. Amin…

Pada kesempatan ini kami panitia akan melaporkan hasil pelaksanaan Qurban tahun 1436 H / 2015 M yang dibebankan pada panitia.

Dalam rangka pelaksanaan Qurban tahun 1436 H / 2015 M panitia sekemampuannya telah melaksanakan sesuai dengan hasil musyawarah yang dilaksanakan sebelum pelaksanaan Qurban, namun diakui dari panitia masih banyak kekurangan dan tidak bisa menjadikan keputusan semua pihak dan khususnya bagi para pengikut Qurban. Kami atas nama panitia dengan rendah hati memohon maaf. Mudah-mudahan untuk tahun yang akan datang dapat labih baik lagi dari tahun ini. Kami mengucapkan terimakasih pada semua pihak yang telah membantu untuk kelancaran kegiatan ini, atas nama panitia menyerahkan Laporan hasil kegiatan pelaksanaan Qurban tahun 1436 H ke Takmir Masjid sebagai Dokumen dan Masyarakat untuk diketahui.

Jumlah Hewan Qurban:
Sapi/Lembu : 7 Ekor
Kambing : 15 Ekor

Foto Kegiatan Penyembelihan Hewan Qurban 1436H
Masjid Baitul Muthohirin Pager