sumber: tribunjogja.com
Peresmian Gapura Selamat Datang
Untuk menjadikan identitas, Padukuhan Pager membangun gapura Selamat Datang yang mana di desain oleh masyarakat padukuhan Pager sendiri agar dapat menjadikan ciri khas Padukuhan Pager.
Simulasi Pengamanan Wilayah
Saat team penilai lomba Pengagungan Kecamatan Playen tengah sibuk melakukan penilaian di Padukuhan Pager, Desa Logandeng, Playen, mendadak terjadi keributan. Puluhan orang yang awalnya berbaris rapi di pinggir jalan menyambut team penilai mendadak lari ber...
Lomba Pengagungan HUT RI Ke-70
Padukuhan Pager, Sebagai lingkungan tempat tinggal masyarakat, sebuah dusun haruslah tertata rapi dan bersih. Hal tersebut bukan hanya karena alasan kerapian, kebersiha dan kesehatan, namun juga karena alasan keindahan dan faktor yang membuat warganya menjadi...
Selasa, 06 Oktober 2015
02.48
Aang
Perayaan puncak HUT ke 259 Kota Yogyakarta pada Rabu (7/10/2015) besok, akan ditandai dengan Pawai Budaya Jogja Istimewa. Selama Pawai Budaya berlangsung, kawasan Tugu akan disterilkan agar tidak mengganggu jalannya pawai.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, Wirawan Hario Yudho menjelaskan rute pawai akan dimulai di Jalan Faridan M Noto, Jalan Jenderal Sudirman (Jembatan Gondolayu), Tugu, Jalan Margo Utomo, lalu berakhir di Jembatan Kleringan.
"Pawai akan dimulai sekitar jam 18.30. Kami mengimbau kepada pengguna jalan untuk sementara menghindari daerah tersebut pada tanggal 7 Oktober mendatang," kata Yudho, Senin (5/10/2015).
Lebih lanjut Yudho menjelaskan, pertigaan Jalan C. Simanjuntak akan ditutup.
Pengendara dari arah utara, akan langsung diarahkan untuk belok kiri dan memutar ke kawasan Stadion Kridosono. Sementara pengendara dari Jalan AM Sangaji, akan langsung diarahkan untuk belok ke Jalan Diponegoro. "Titik utamanya memang akan berada di Tugu, jadi kawasan tersebut akan kami sterilkan selama pawai berlangsung," jelasnya.
Sementara Kepala Bidang Promosi Wisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti mengatakan Pawai Budaya Jogja Istimewa ini akan diikuti oleh sekitar 4ribu peserta.
Selain itu, Disparbud Kota Yogyakarta juga akan menyediakan sejumlah panggung di sepanjang rute kirab.
Peserta yang ikut antara lain kontingen dari sister city, yakni Surabaya, Sawahlunto, dan Banjarnegara.
Kemudian akan disusul oleh sejumlah komunitas di Kota Yogyakarta, asosiasi mal, dan perwakilan dari masing-masing wilayah. "Kami memang tidak begitu mengejar kuantitas peserta pawai, tapi lebih ke kualitas. Kami batasi per wilayah mengirimkan 75 orang," kata Yetti.
Tak hanya itu, atraksi kesenian yang akan ditampilkan oleh Disparbud Kota Yogyakarta juga diserahkan sepenuhnya oleh wilayah. Masing wilayah dibebaskan untuk mengangkat potensi seni di kampung mereka. "Beberapa titik yang akan menjadi panggung atraksi ada di Tugu dan sebelah selatan Hotel Grand Zuri," ujat Yetti.
Sebelumnya, Eko Suryo Maharso Kepala Disparbud Kota Yogyakarta mengatakan perayaan berbeda akan dilakukan Pemkot Yogyakarta. Jika pada tahun sebelumnya diadakan pisowanan ke Keraton Yogyakarta, maka tahun ini kegiatan tersebut ditiadakan. Padahal pisowanan sudah menjadi agenda rutin ulang tahun Kota Yogyakarta selama dua tahun terakhir. Pisowanan biasanya menjadi ajang pertemuan antara warga Kota Yogyakarta dengan Raja Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono X. "Tahun ini pisowanan ditiadakan karena ada proses penataan di kawasan Keraton Yogyakarta, salah satunya yang saat ini sedang digarap adalah titik nol kilometer. Karena rute tersebut adalah rute utama, maka ditiadakan," jelas Eko.
sumber: tribunjogja.com
02.05
Aang
Padukuhan Pager yang mulai berbenah di berbagai aspek, mulai dari aspek ekonomi hingga aspek Infrastruktur. Peran serta Tokoh dan Masyarakat Padukuhan Pager yang kompak dan solid dalam memajukan Padukuhan Pager sehingga Infrastruktur di Padukuhan Pager dapat merata dan dapat di rasakan manfaatnya. Berbagai upaya telah diusahakan oleh Tokoh dan Masyarakat Padukuhan Pager mulai dari mencari Bantuan dari tingkat Kabupaten, Provinsi, hingga ke Nasional sampai dengan Swadaya Masyarakat untuk membangun Padukuhan Pager. Berikut Gambaran singkat mengenai kondisi Infrastruktur di Padukuhan Pager :
Senin, 05 Oktober 2015
02.24
Aang
Sehubungan dengan adanya pemeliharaan jaringan di wilayah PT. PLN (Persero) Rayon Wonosari, Pemerintah Desa logandeng mendapat Surat Pemberitahuan No : 096/DIS.00.04/WNS/2015 Tentang : Pemadaman Listrik. Untuk meningkatkan keandalan pasokan tenaga listrik, 4 (empat) Desa di Kecamatan Playen PT. PLN (Persero) Rayon Wonosari akan dilakukan pemadaman listrik pada hari Selasa, 06 Oktober 2015 pada pukul 09.00 - 14.00 WIB
01.38
Aang
![]() |
| Ilustrasi Ki Pager Wasesa |
Berawal dari pelarian Majapahit yang salah satunya bernama Ki Pager Wasesa memasuki wilayah Redikidul (Gunungkidul sekarang). Dia adalah salah satu Senopati perang dari Majapahit. Dalam Perjalannanya dia akhirnya memutuskan untuk bertempat tinggal di tengah Hutan. Menjadi rakyat jelata adalah pilihannya agar bisa hidup tenang dan nyaman. Untuk bertahan hidup, berburu dan bertani adalah kegiatan yang dilakoninya. Dia juga memiliki keahlian dalam bidang mengolah bahanbaku besi menjadi senjata dan alat-alat pertanian.
Profesi membuat alat-alat pertanian berbahan baku besi inilah yang membuat masyarakat lebih mengenal dia sebagai Pager Wesi. Selain sebagai tukang pande besi, dia juga dipercaya ahli dalam pengobatan. Kedua profesi inilah yang akhirnya membuat banyak orang datang dan bermukin di sekitar kediaman Ki Pager Wesi. Maka untuk menghormati Ki Pager Wesi tempat yang sebelumnya hutan ini diberi nama Pager.
Sesuai kebiasaan orang-orang ketika hendak pergi ketempat Ki Pager Wesi, mereka menyebut pergi ke Mbah Pager atau pergi ke Pager. Diapun menghabiskan sisa hidupnya sebagai rakyat biasa sampai meninggal. Masyarakat yang terlanjur bertempat tinggal di sanapun memakamkan dia di sekitar Pager. Dipercaya makam Mbah Pager ada di Bandung.
Kamis, 01 Oktober 2015
20.13
Aang
Alu adalah kayu panjang untuk menumbuk padi. Sedangkan lesung
adalah kayu panjang yang dibuat seperti perahu, sebagai tempat untuk
padi yang ditumbuk. Alu dan lesung memang alat untuk memisahkan padi
dari tangkainya. Namun, di tangan ibu-ibu petani, alu dan
lesung bisa menciptakan irama musik yang indah yang disebut gejog lesung.
Musik yang tercipta dari alu yang ditumbukkan ke lesung ini terkenal dengan sebutan Gejog Lesung. Dulu, Gejog Lesung
sering dimainkan saat terang bulan purnama. Gejog Lesung dimainkan
sebagai wujud syukur atas hasil panen padi yang melimpah. Para petani
berterima kasih kepada Dewi Sri
sebagai dewi padi.
Kini, Gejog Lesung hanya dimainkan jika ada upacara-upacara tertentu, seperti bersih desa, pesta panen, atau menyambut tamu. Sesekali, Gejog Lesung juga dilombakan untuk menyambut perayaan tertentu, seperti HUT Kemerdekaan Indonesia. Salah satu contoh Kesenian Gejog Lesung yang sedang dimainkan saat menyambut Tim Penilai Lomba Pengaggungan HUT RI ke-70 di Padukuhan Pager.
Ada Legenda Gerhana Bulan yang bercerita tentang Gejog Lesung. Konon, ada Raksasa Kala Rahu yang ingin makan Bulan. Ketika Nini Thowong yang menjaga Bulan sedang tertidur, Raksasa Kala Rahu berhasil memakan separuh Bulan. Maka, masyarakat pun membuat bunyi-bunyian, termasuk memukulkan alu ke lesung. Nini Thowong pun terbangun, lalu memanah Raksasa Kala Rahu, sehingga Bulan terbebas kembali.
Gejog Lesung tidak bisa dimainkan sendirian. Biasanya, ada 12 ibu-ibu
yang memainkan Gejog Lesung. Lima atau enam orang yang memainkan Gejog
Lesung. Sisanya menyanyi dan menari sambil membawa tampah.
Lagu-lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu tradisional seperti Gundul-Gundul Pacul, Lumbung Pari,
atau Caping Gunung
. Kadang Gejog Lesung
juga diiringi oleh tabuhan gamelan Jawa.
Sumber Text : http://www.kidnesia.com
02.03
Aang
Pager, Kamis (01/10/2015) Salah satu warga Padukuhan Pager yaitu Bp Widodo yang bertempat tinggal di RT 01 kehilangan 3 ekor burung pliharaannya yaitu lovebird, kenari, dan pleci yang di simpan di teras rumah. Diperkirakan kerugian Bp Widodo atas kehilangan 3 ekor burung dan sangkarnya kurang lebih 1 juta Rupiah. Kejadian diperkirakan terjadi pada sekitar pukul 03.00 - 04.00 WIB.
Salah satu warga Padukuhan Bandung menuturkan bahwa sekitar pukul 04.00 WIB yang hendak rewang, ada pengendara sepeda motor dari arah timur berboncengan dengan membawa sangkar burung. Namun beliau tidak berani menegur.
Langganan:
Postingan (Atom)
RSS Feed Reader



